MAKALAH
SEJARAH
INDONESIA ZAMAN PENGARUH BARAT
“ PERANG PATTIMURA DAN PERANG
DIPONEGORO”
OLEH
PIKI SETRI PERNANTAH
17582/2010
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN
SEJARAH
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2012
Perang
pattimura dan perang diponegoro
Perang pattimura / pemberontakan
Saparua (1817).
Pergolakan
di Saparua selama bagian kedua tahun 1817 (Juli-Desember) dibagngkitkan oleh
restorasi pemerintahan kolonial Belanda dengan penyerahan kembali daerah Maluku
dari tangan Inggris. Perubahan penguasa dengan sendirinya membawa perubahan
kebijaksanaan dan peraturan. Apabila perubahan itu menimbulkan banyak kerugian
atau penghargaan yang kurang, sudah barang tentu akan menimbulkan rasa tak puas
dan kegelisahan.
Pada
zaman pemerintahan Inggris penyerahan-wajib dan kerja-wajib (verplichte
leverantien, herendiensten) dihapus, tetapi pemerintahan Belanda mengharuskannya
lagi. Tambahan pula tarif berbagi barang yang disektor diturunksn, sedang
pembayarannya ditunda-tunda. Disamping itu pengeluaran uang kertas sebagai
pengganti uang logam menambah kegelisahan rakyat. Belanda juga mulai
menggerakkan tenaga dari kepulauan Maluku untuk menjadi soldadu (serdadu) dalam
tentara kolonial. Hal-hal itu diutarakan sebagai keluhan-keluhan yang
menyebutkan kegelisahan dan akhirnya menimbulkan pemberontakan. Kedatangan
kembali Belanda mengingatkan rakyat kepada zaman kompeni sebelum masa
penjajahan Inggris yang dianggap serba berat dan penuh penderitaan.
Protes
rakyat dibawah pimpinan Thomas Matulessi dimulai atau diawali dengan penyerahan
daftar keluhan-keluhan kepada Belanda. Daftar itu ditandatangani oleh 21
penguasa orang kaya, patih, raja dari Saparua dan Nusa laut. Beberapa pemimpin
lain dalam pemberontakan ialah Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Raja dari
Siri Sori Sayat.
Pada
tanggal 3 Mei 1817 kira-kira seratus orang, di antaranya Thomas Matulessi
berkumpul di hutan Warlutun dan memutuskan untuk melakukan penyerbuan terhadap
benteng Belanda yang bernama Duurstede di Saparua dan membunuh semua
penghuninya. Pada tanggal 9 Mei 1817 berkerumunlah lagi sejumlah orang yang
sama di tempat tersebut. Dipilihnya Thomas Matulessi sebagai kapten serta
kebulatkan tekat untuk menyerang benteng dan membunuh Fetor (residen), raja
dari Siri-Sori dan patih dari Haria. Kemudian bubarlah mereka, dan menyebarkan
rencana itu ke seluruh Haria desa-desa di Saparua. Lima hari kemudian (14 Mei
1817) seluruh penduduk mengucapkan sumpah mereka dan berkobarlah pemberontakan.
Rakyat menyerbu Porto dan menyerang
Orembaai yang akan dibawa ke Ambon.
Pada
tanggal 15 Mei 1817 malam, benteng dikepung oleh massa yang sudah siap
melakukan penyerbuan. Dibenteng sendiri hanya ada belasan orang tentara
Kompeni, sebagian besar serdadu Jawa. Pada tanggal 16 Mei 1817 residen telah
memerintahkan untuk mengerek bendera putih. Dalam penyerbuan, residen serta
keluarganya mati terbunuh, kecuali seorang anak laki-laki yang akhirnya
mendapat perlindungan Patiwel. Hanya beberapa orang tentara dapat meloloskan
diri. Dengan kegigihan rakyat Maluku dibawah pimpinan Kapitan Pattimura,
akhirnya Benteng Duurstede jatuh
ketangan rakyat. Pertemuan pembesar-pembesar Belanda di Ambon memutuskan untuk
mengirim ekspedisi guna merebut benteng Durstede kembali. Pada tanggal 17 Mei
1817, pasukan Mayor Beetjes mendarat di Saparua, pasukan dibaginya atas tiga
tujuan. Pasukan ini dapat didesak ke laut oleh pasukan Pattimura, Beetjes
sendiri tewas/tertembak mati. Akibat kemenangan, maka Perlawanan meluas dari
saparua ke Ambon, Seram dan tempat-tempat lainnya. Kedudukan Belanda semakin
terdesak. Akhirnya Belanda mengerahkan segenap kekuatannya untuk mematahkan
perlawanan rakyat Maluku.
Pada
tanggal 24 Juni 1817, serangan balasan Belanda dp.J.Graat terhadap Hatawano
gagal. Belanda membujuk dan mengambil untuk berunding tetapi gagal. Pada
tanggal 21 Juli 1817, pendaratan tentara Belanda di Hatawano dengan aksi
membakar rumah-rumah penduduk. Pada tanggal 3 Agustus 1817, Saparua dapat
direbut kembali oleh Belanda. Meskipun benteng dapat direbut kembali,
pergolakan berkobar terus dan para pemimpin bersembunyi di hutan-hutan.
Berikutnya sebagian Maluku, Buyskes, melakukan taktik pecah belah, di samping
terus memperkuat pasukan dengan mendapatkan bantuan Ambon. Ternate dan Tidore
dapat mereka bujuk untuk memihak Belanda. Dalam pada itu beberapa perlawanan
dapat mereka pertahankan seperti di Hitu, Hatasa, lalu Porto dan Haria dapat
mereka rebut 8 November. Rakyat Nusa Laut meletakkan senjata pada tanggal 10
November, dua hari kemudian (12 November) Thomas Matulessi (Kapittan Pattimura)
tertangkap oleh Liman Pietersen. Pada tanggal 13 November, Anthoni Rhebok,
Thomas pattiwael dll juga tertangkap, tanggal 16 November 1817 mereka di
penjarakan di Ambon. Sebagai akhir masa pemberontakan pada tanggal 16 November
diadakan upacara agama. Dua hari kemudian para pemimpin pemberontakan
diberangkatkan ke Ambon untuk diadili. Matulessi dan tokoh-tokoh terkemuka
dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan sedang lainnya dibuang, antara lain ke
Jawa. Dalam perlawanan ini terkenal pula seorang tokoh perempuan yang bernama
Martha Christina Tiahahu.
Perang Diponegoro (1825-1830).
Sejak
kedatangan Belanda di Jawa Tengah, kerajaan Mataram mengalami kemerosotan.
Wilayah kerajaan makin sempit karena banyak daerah diambil alih oleh Belanda
sebagai imbalan atas bantuannya. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Belanda
ini menimbulkan rasa benci dari golongan-golongan rakyat banyak atau rakyat
jelata. Golongan agama, golongan bangsawan dan sebagainya. Walaupun keadaan sudah
mulai panas namun golongan itu masih
menunggu datangnya seorang Ratu Adil yang dapat memimpin mereka dalam
menghadapi Belanda. Tokoh yang diharapkan itu adalah tokoh dari kalangan istana
yang tampil ke depan untuk memimpin mereka, beliau adalah Pengeran Diponegoro.
Perang
Diponegoro merupakan pergolakan terbesar yang terakhir dihadapi pemerintah kolonial
Belanda di Jawa. Sampai selesainya perang tersebut diperkirakan yang gugur ada
kurang lebih dua ratus ribu orang, sedang yang mengalami penderitaan berjumlah
sepertiga dari penduduk Jawa pada waktu itu, kurang lebih dua juta orang.
Kecendrungan untuk mengikuti P. Diponegoro perlu dilacak kembali pada kondisi
hidup rakyat, lebih-lebih dalam bidang sosial-ekonomis. Sistem pajak
tradisional telah menjadi beban berat secara turun-temurun, seperti:
1. Kerig aji
(heerendiensten)
2. Wilah welit
(pajak tanah)
3. Pengawang-gawang (pajak
halaman-pekarangan)
4. Pencumpling
(pajak jumlah pintu)
5. Pajigar
(pajak ternak)
6. Penyongket
(pajak pindah nama); bekti (pajak
menyewa tanah atau menerima jabatan).
Disamping
itu ada pajak atau pungutan yang ditarik pada tempat pabeyan, yang kebanyakan
disewakan kepada Cina. Semua lalu lintas dengan pengangkutan barang dikenakan
pajak, sampai-sampai seorang ibu yang menggendong anaknya dikenakan pajak juga.
Ada
beberapa hal yang menyebabkan Pangeran Diponegoro turun tangan dan memimpin
perlawan terhadap Belanda. Kita membagi alasan peperangan atas 2, yaitu:
a. Kekuasaan
raja Mataram semakin kecil dan merosotnya kewibawaanya bersama dengan pemecahan
wilayahnya menjadi empat kerajaan kecil, yaitu Surakarta, Ngayogyakarta,
Mangkunegara, Paku Alaman.
b. Kaum
bangsawan merasa dikurangi penghasilannya, karena daerah-daerah yang dulu
dibagi-bagikan kepada para bangsawan, kini diambil oleh pemerintah Belanda.
Pemerintahan Belanda mengeluarkan maklumat yang isisnya akan mengusahakan
perekonomian sendiri, tanah milik kaum partikelir (swasta) harus dikembalikan
kepada pemerintahan Belanda. Sudah tentu tindakan ini menimbulkan kegelisahan
diantara di antara para bangsawan, karena harus mengembalikan uang persekot
yang telaj mereka terima.
c. Rakyat
yang mempunyai beban seperti kerja Rodi, pajak tanah dan sebagainya merasa
tertindas. Begitu pula karena pemungutan beberapa pajak yang diborong oleh
orang-orang Tionghoa dengan sifat memeras dan memperberat beban rakyat.
Belanda
ingin memperluas/pembuatan jalan yang
melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Rejo. Patih Danurejo IV
(seorang kaki tangan Belanda) memerintahkan untuk memasang patok-patok jalur
itu. Pangeran Diponegoro memerintahkan untuk mencabutnya, namu patok-patok itu
di pasang kembali atas perintah Patih Danurejo IV. Keadaan seperti ini
berlangsung berkali-kali, sehingga akhirnya patok-patok itu diganti oleh
Pangeran Diponegoro dengan tombak. Denga penggantian patokan itu menandakan
kesiapan Pangeran Diponegoro untuk berperang melawan Belanda. Peperangan tidak
dapat di elakkan lagi dan pasti akan terjadi. Akan tetapi, belanda berusaha
mengatasi kemelut antara kedua bangsawan tersebut dan mengharapkan tidak
terjadi peperangan. Untuk itu Belanda mengutus Pangeran Mangkubumi (Paman dari
Pangeran Diponegoro) untuk membujuk agar mau bertemu dengan Residen Belanda di
Loji. Pangeran Diponegoro menolak tawaran itu karena tahu arti semua yang
dimaksudkan oleh Belanda. Ketika pembicaraan antara Pangeran Mangkubumi dengan
pangeran Diponegoro berlangsung, dengan tiba-tiba Belanda telah melakukan
serangan.
Serangan
itu merupakan awal peperangan. Pangeran Diponegoro bersama dengan Pangeran
Mangkubumi berhasil meloloskan diri keluar kota dan memutuskan pasukannya di
Selarong. Kemudian Pangeran Diponegoro menggempur kota Ngayogyakarta, sehingga
Sultan Hamengkubuwono V yang masih kanak-kanak dibawa ke benteng Balanda.
Pasukan Belanda berhasil menghalau pasukan Diponegoro. Kegagalan pasukan Diponegoro
ini mendorong beliau mengalihkan peperangan disekitar kota Ngayogyakarta dan
salah satu pertempuran yang dasyat terjadi di Plered.
Selain
dibantu oleh Pangeran Mangkubumi dan beberapa bangsawan lainya, Diponegoro juga
dibantu oleh Sentot Ali Basa prawiradirdja dan Kiai Mojo dari Surakarta. Kiai
mojo berhasil mengobarkan perang Jihad di daerah Ngayogyakarta, Surakarta,
Bagelen, dan sekitarnya. Pangeran Diponegoro terus mengorganisir pasukannya
dalam serangan gerilya. Pasukan-pasukan Diponegoro diberi nama seperti Arkiyo,
Turkiyo, dan lain-lain.
Pada
tahun 1826 terjadi pertempuran di Ngalengkong. Pasukan Diponegoro mengalami
kemenangan gemilang yang mengharumkan nama pangeran Diponegoro. Peristiwa
Ngalengkong ini merupakan puncak kemenangan dari pertempuran-pertempuran yang
dilakukan Pangeran Diponegoro. Rakyat menobatkan Pangeran Diponegoro sebagai
Sultan dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herutjokro Amirulmukminin Saidin
Panatagama Kalifahtullah Tanah Jawa. Penobatan ini berlangsung didaerah Dekso.
Karena
beliau tahu betul kekuatan pasukannya yang jauh dibawah pasukan Belanda,
Pangeran Diponegoro mengobarkan perang gerilya. Tetapi dalam pertempuran di Gawok terjadi perselisihaan
antara Pangeran Diponegoro berpendapat bahwa masalah pemerintahaan dan keagamaan
harus di pegang oleh satu tangan, karena ke dua unsur itu harus di anggap saling membantu. Sedangkan menurut
Kiai Mojo ke dua masalah itu harus di pegang secara terpisah. Tampaknya perselisihaan
itu juga siasat perang, karena menolak usul perang terbuka dari Kiai Mojo.
Tahun 1829 merupakan saat yang sangat kritis bagi
Pangeran Diponegoro satu persatu pengikutnya mulai meninggalkan dan memisahkan
diri. Setelah Kiai Mojo memisahkan diri dari kelompok Pangeran Diponegoro juga Sentot
Alli Basa Prawiradya yang juga menginginkan perang terbuka dan menolak siasat perang geriliya. Sentot Ali Basa
Prawiradya yang juga menginginkan perang dan menolak siasat perang gerilya. Sentot Ali Basa
Prawiradya akhirnya
menyerah kepada Belanda setelah syarat syarat yang diajukannya diterima oleh Belanda, di
antaranya:
a.
Pemberian
pinjaman sebesar 10.000 ringgit
b.
Tetap
mempunyai barisan yang jumlahnya 1000 orang
c.
Di
berikan senjata sebanyaknya 5000 buah senapan
d.
Tetap
memeluk agama islam.
Dengan terpenuhinya syarat-syarat itu maka tanggal 20 oktober 1829 Sentot menyerah
kepada Belanda di Yogyakarta. Kedatangan Sentot bersama pasukanya di sambut
oleh Belanda dengan
suatu upacara militer.
Sentot diangkat oleh Belanda dengan pangkat Letnan Kolonel yang langsung berada di bawah pimpinan Jendral De Kock.
Menyerahnya Sentot ini menyebabkan Pangeran diponegoro kehilangan
banyak pengikut dan kekuatannya pun semakin berkurang. Kemudian Belanda menjanjikan hadiah bagi
siapa yang dapat menangkap Pangeran Diponegoro, namun usaha itu pun mengalami kegagalan. Belanda
cukup banyak mengeluarkan biaya dalam Perang Diponegoro dan bermaksud
segera mengakhiri peperangan, dengan cara melaksanakan perundingan.
Kolonel Clereens berhasil mengadakan perundingan pendahuluan sekitar bulan Februari 1830. Perundingan itu berhasil dillaksanakan antara Pangeran Diponegoro mengajukan tuntunan sebagai berikut:
Pangeran
Diponegoro menginginkan sebuah Negara Merdeka di bawah seorang Sultan dan juga ingin menjadi Amirulmukmin di seluruh tanah Jawa serta
sebagai Kepala Negara
bagi masyarakat islam.
Tuntutan itu tak di penuhi
oleh Belanda sehingga tawar menawar pun terjadi, hasil perundingan itu
sudah tidak ada harapan lagi. Melihat
keteguhaan hati Pangeran Diponegoro akhirnya kekebalan diplomatik yang dimiliki Pangeran
Diponegoro di singkirkan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan di Batavia kemudian di Manado
daan selanjutnya di Makassar (Benteng Rotterdam), hingga akhir hayatnya di sana tanggal 8 Februari 1855.
Dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro, maka
berakhirlah Perang Diponegoro dengan
Belanda. Belanda mengakui bahwa Perang Diponegoro merupakan perang yang paling hebat karena pihak Belanda
banyak mengeluarkan biaya perang.
Referensi:
-
H. C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modren. Yogyakarta.
Gadjah Mada University press.
-
Sartono Kartodirdjo. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900
dari Emporium sampai Imperium Jilid I.
Jakarta: Gramedia.
-
Zul Asri. 2005. Hand Out Sejarah Indonesia Zaman Pengaruh Barat. Padang: Jurusan Sejarah FIS UNP.

background ama tulisannya ngejreng banget bikin pusing pembaca
BalasHapus