Selasa, 28 Februari 2012

perang pattimura dan perang diponegoro

MAKALAH
SEJARAH INDONESIA ZAMAN PENGARUH BARAT
“ PERANG PATTIMURA DAN PERANG DIPONEGORO”





OLEH

PIKI SETRI PERNANTAH
17582/2010




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012



Perang pattimura dan perang diponegoro

Perang pattimura / pemberontakan Saparua (1817).
Pergolakan di Saparua selama bagian kedua tahun 1817 (Juli-Desember) dibagngkitkan oleh restorasi pemerintahan kolonial Belanda dengan penyerahan kembali daerah Maluku dari tangan Inggris. Perubahan penguasa dengan sendirinya membawa perubahan kebijaksanaan dan peraturan. Apabila perubahan itu menimbulkan banyak kerugian atau penghargaan yang kurang, sudah barang tentu akan menimbulkan rasa tak puas dan kegelisahan.
Pada zaman pemerintahan Inggris penyerahan-wajib dan kerja-wajib (verplichte leverantien, herendiensten) dihapus, tetapi pemerintahan Belanda mengharuskannya lagi. Tambahan pula tarif berbagi barang yang disektor diturunksn, sedang pembayarannya ditunda-tunda. Disamping itu pengeluaran uang kertas sebagai pengganti uang logam menambah kegelisahan rakyat. Belanda juga mulai menggerakkan tenaga dari kepulauan Maluku untuk menjadi soldadu (serdadu) dalam tentara kolonial. Hal-hal itu diutarakan sebagai keluhan-keluhan yang menyebutkan kegelisahan dan akhirnya menimbulkan pemberontakan. Kedatangan kembali Belanda mengingatkan rakyat kepada zaman kompeni sebelum masa penjajahan Inggris yang dianggap serba berat dan penuh penderitaan.
Protes rakyat dibawah pimpinan Thomas Matulessi dimulai atau diawali dengan penyerahan daftar keluhan-keluhan kepada Belanda. Daftar itu ditandatangani oleh 21 penguasa orang kaya, patih, raja dari Saparua dan Nusa laut. Beberapa pemimpin lain dalam pemberontakan ialah Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Raja dari Siri Sori Sayat.
Pada tanggal 3 Mei 1817 kira-kira seratus orang, di antaranya Thomas Matulessi berkumpul di hutan Warlutun dan memutuskan untuk melakukan penyerbuan terhadap benteng Belanda yang bernama Duurstede di Saparua dan membunuh semua penghuninya. Pada tanggal 9 Mei 1817 berkerumunlah lagi sejumlah orang yang sama di tempat tersebut. Dipilihnya Thomas Matulessi sebagai kapten serta kebulatkan tekat untuk menyerang benteng dan membunuh Fetor (residen), raja dari Siri-Sori dan patih dari Haria. Kemudian bubarlah mereka, dan menyebarkan rencana itu ke seluruh Haria desa-desa di Saparua. Lima hari kemudian (14 Mei 1817) seluruh penduduk mengucapkan sumpah mereka dan berkobarlah pemberontakan. Rakyat menyerbu Porto dan menyerang Orembaai yang akan dibawa ke Ambon.
Pada tanggal 15 Mei 1817 malam, benteng dikepung oleh massa yang sudah siap melakukan penyerbuan. Dibenteng sendiri hanya ada belasan orang tentara Kompeni, sebagian besar serdadu Jawa. Pada tanggal 16 Mei 1817 residen telah memerintahkan untuk mengerek bendera putih. Dalam penyerbuan, residen serta keluarganya mati terbunuh, kecuali seorang anak laki-laki yang akhirnya mendapat perlindungan Patiwel. Hanya beberapa orang tentara dapat meloloskan diri. Dengan kegigihan rakyat Maluku dibawah pimpinan Kapitan Pattimura, akhirnya Benteng Duurstede jatuh ketangan rakyat. Pertemuan pembesar-pembesar Belanda di Ambon memutuskan untuk mengirim ekspedisi guna merebut benteng Durstede kembali. Pada tanggal 17 Mei 1817, pasukan Mayor Beetjes mendarat di Saparua, pasukan dibaginya atas tiga tujuan. Pasukan ini dapat didesak ke laut oleh pasukan Pattimura, Beetjes sendiri tewas/tertembak mati. Akibat kemenangan, maka Perlawanan meluas dari saparua ke Ambon, Seram dan tempat-tempat lainnya. Kedudukan Belanda semakin terdesak. Akhirnya Belanda mengerahkan segenap kekuatannya untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku.
Pada tanggal 24 Juni 1817, serangan balasan Belanda dp.J.Graat terhadap Hatawano gagal. Belanda membujuk dan mengambil untuk berunding tetapi gagal. Pada tanggal 21 Juli 1817, pendaratan tentara Belanda di Hatawano dengan aksi membakar rumah-rumah penduduk. Pada tanggal 3 Agustus 1817, Saparua dapat direbut kembali oleh Belanda. Meskipun benteng dapat direbut kembali, pergolakan berkobar terus dan para pemimpin bersembunyi di hutan-hutan. Berikutnya sebagian Maluku, Buyskes, melakukan taktik pecah belah, di samping terus memperkuat pasukan dengan mendapatkan bantuan Ambon. Ternate dan Tidore dapat mereka bujuk untuk memihak Belanda. Dalam pada itu beberapa perlawanan dapat mereka pertahankan seperti di Hitu, Hatasa, lalu Porto dan Haria dapat mereka rebut 8 November. Rakyat Nusa Laut meletakkan senjata pada tanggal 10 November, dua hari kemudian (12 November) Thomas Matulessi (Kapittan Pattimura) tertangkap oleh Liman Pietersen. Pada tanggal 13 November, Anthoni Rhebok, Thomas pattiwael dll juga tertangkap, tanggal 16 November 1817 mereka di penjarakan di Ambon. Sebagai akhir masa pemberontakan pada tanggal 16 November diadakan upacara agama. Dua hari kemudian para pemimpin pemberontakan diberangkatkan ke Ambon untuk diadili. Matulessi dan tokoh-tokoh terkemuka dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan sedang lainnya dibuang, antara lain ke Jawa. Dalam perlawanan ini terkenal pula seorang tokoh perempuan yang bernama Martha Christina Tiahahu.

Perang Diponegoro (1825-1830).
Sejak kedatangan Belanda di Jawa Tengah, kerajaan Mataram mengalami kemerosotan. Wilayah kerajaan makin sempit karena banyak daerah diambil alih oleh Belanda sebagai imbalan atas bantuannya. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Belanda ini menimbulkan rasa benci dari golongan-golongan rakyat banyak atau rakyat jelata. Golongan agama, golongan bangsawan dan sebagainya. Walaupun keadaan sudah mulai panas namun golongan  itu masih menunggu datangnya seorang Ratu Adil yang dapat memimpin mereka dalam menghadapi Belanda. Tokoh yang diharapkan itu adalah tokoh dari kalangan istana yang tampil ke depan untuk memimpin mereka, beliau adalah Pengeran Diponegoro.
Perang Diponegoro merupakan pergolakan terbesar yang terakhir dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Sampai selesainya perang tersebut diperkirakan yang gugur ada kurang lebih dua ratus ribu orang, sedang yang mengalami penderitaan berjumlah sepertiga dari penduduk Jawa pada waktu itu, kurang lebih dua juta orang. Kecendrungan untuk mengikuti P. Diponegoro perlu dilacak kembali pada kondisi hidup rakyat, lebih-lebih dalam bidang sosial-ekonomis. Sistem pajak tradisional telah menjadi beban berat secara turun-temurun, seperti:
1.      Kerig aji (heerendiensten)
2.      Wilah welit (pajak tanah)
3.      Pengawang-gawang (pajak halaman-pekarangan)
4.      Pencumpling (pajak jumlah pintu)
5.      Pajigar (pajak ternak)
6.      Penyongket (pajak pindah nama); bekti (pajak menyewa tanah atau menerima jabatan).
Disamping itu ada pajak atau pungutan yang ditarik pada tempat pabeyan, yang kebanyakan disewakan kepada Cina. Semua lalu lintas dengan pengangkutan barang dikenakan pajak, sampai-sampai seorang ibu yang menggendong anaknya dikenakan pajak juga.
Ada beberapa hal yang menyebabkan Pangeran Diponegoro turun tangan dan memimpin perlawan terhadap Belanda. Kita membagi alasan peperangan atas 2, yaitu:
*      Sebab Umum:
a.       Kekuasaan raja Mataram semakin kecil dan merosotnya kewibawaanya bersama dengan pemecahan wilayahnya menjadi empat kerajaan kecil, yaitu Surakarta, Ngayogyakarta, Mangkunegara, Paku Alaman.
b.      Kaum bangsawan merasa dikurangi penghasilannya, karena daerah-daerah yang dulu dibagi-bagikan kepada para bangsawan, kini diambil oleh pemerintah Belanda. Pemerintahan Belanda mengeluarkan maklumat yang isisnya akan mengusahakan perekonomian sendiri, tanah milik kaum partikelir (swasta) harus dikembalikan kepada pemerintahan Belanda. Sudah tentu tindakan ini menimbulkan kegelisahan diantara di antara para bangsawan, karena harus mengembalikan uang persekot yang telaj mereka terima.
c.       Rakyat yang mempunyai beban seperti kerja Rodi, pajak tanah dan sebagainya merasa tertindas. Begitu pula karena pemungutan beberapa pajak yang diborong oleh orang-orang Tionghoa dengan sifat memeras dan memperberat beban rakyat.

*      Sebab Khusus:
Belanda ingin  memperluas/pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Rejo. Patih Danurejo IV (seorang kaki tangan Belanda) memerintahkan untuk memasang patok-patok jalur itu. Pangeran Diponegoro memerintahkan untuk mencabutnya, namu patok-patok itu di pasang kembali atas perintah Patih Danurejo IV. Keadaan seperti ini berlangsung berkali-kali, sehingga akhirnya patok-patok itu diganti oleh Pangeran Diponegoro dengan tombak. Denga penggantian patokan itu menandakan kesiapan Pangeran Diponegoro untuk berperang melawan Belanda. Peperangan tidak dapat di elakkan lagi dan pasti akan terjadi. Akan tetapi, belanda berusaha mengatasi kemelut antara kedua bangsawan tersebut dan mengharapkan tidak terjadi peperangan. Untuk itu Belanda mengutus Pangeran Mangkubumi (Paman dari Pangeran Diponegoro) untuk membujuk agar mau bertemu dengan Residen Belanda di Loji. Pangeran Diponegoro menolak tawaran itu karena tahu arti semua yang dimaksudkan oleh Belanda. Ketika pembicaraan antara Pangeran Mangkubumi dengan pangeran Diponegoro berlangsung, dengan tiba-tiba Belanda telah melakukan serangan.

Serangan itu merupakan awal peperangan. Pangeran Diponegoro bersama dengan Pangeran Mangkubumi berhasil meloloskan diri keluar kota dan memutuskan pasukannya di Selarong. Kemudian Pangeran Diponegoro menggempur kota Ngayogyakarta, sehingga Sultan Hamengkubuwono V yang masih kanak-kanak dibawa ke benteng Balanda. Pasukan Belanda berhasil menghalau pasukan Diponegoro. Kegagalan pasukan Diponegoro ini mendorong beliau mengalihkan peperangan disekitar kota Ngayogyakarta dan salah satu pertempuran yang dasyat terjadi di Plered.
Selain dibantu oleh Pangeran Mangkubumi dan beberapa bangsawan lainya, Diponegoro juga dibantu oleh Sentot Ali Basa prawiradirdja dan Kiai Mojo dari Surakarta. Kiai mojo berhasil mengobarkan perang Jihad di daerah Ngayogyakarta, Surakarta, Bagelen, dan sekitarnya. Pangeran Diponegoro terus mengorganisir pasukannya dalam serangan gerilya. Pasukan-pasukan Diponegoro diberi nama seperti Arkiyo, Turkiyo, dan lain-lain.
Pada tahun 1826 terjadi pertempuran di Ngalengkong. Pasukan Diponegoro mengalami kemenangan gemilang yang mengharumkan nama pangeran Diponegoro. Peristiwa Ngalengkong ini merupakan puncak kemenangan dari pertempuran-pertempuran yang dilakukan Pangeran Diponegoro. Rakyat menobatkan Pangeran Diponegoro sebagai Sultan dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herutjokro Amirulmukminin Saidin Panatagama Kalifahtullah Tanah Jawa. Penobatan ini berlangsung didaerah Dekso.
Karena beliau tahu betul kekuatan pasukannya yang jauh dibawah pasukan Belanda, Pangeran Diponegoro mengobarkan perang gerilya. Tetapi dalam pertempuran di Gawok terjadi perselisihaan antara Pangeran Diponegoro berpendapat bahwa masalah pemerintahaan dan keagamaan harus di pegang oleh satu tangan, karena ke dua unsur itu  harus di anggap saling membantu. Sedangkan menurut Kiai Mojo ke dua masalah itu harus di pegang secara terpisah. Tampaknya perselisihaan itu juga siasat perang, karena menolak usul perang terbuka dari Kiai Mojo.
Tahun 1829 merupakan saat yang sangat kritis bagi Pangeran Diponegoro satu persatu pengikutnya mulai meninggalkan dan memisahkan diri. Setelah Kiai Mojo memisahkan diri dari kelompok Pangeran Diponegoro juga Sentot Alli Basa Prawiradya yang juga menginginkan perang terbuka dan menolak  siasat perang geriliya. Sentot Ali Basa Prawiradya yang juga menginginkan perang dan menolak  siasat perang gerilya. Sentot Ali Basa Prawiradya akhirnya menyerah kepada Belanda setelah syarat syarat yang diajukannya diterima oleh Belanda, di antaranya:
a.       Pemberian pinjaman sebesar 10.000 ringgit
b.      Tetap mempunyai barisan yang jumlahnya 1000 orang
c.       Di berikan senjata sebanyaknya 5000 buah senapan
d.      Tetap memeluk agama islam.
Dengan terpenuhinya syarat-syarat itu maka tanggal 20 oktober 1829 Sentot menyerah kepada Belanda di Yogyakarta. Kedatangan Sentot bersama pasukanya di sambut oleh Belanda dengan suatu  upacara militer. Sentot diangkat oleh Belanda dengan pangkat Letnan Kolonel  yang langsung berada di bawah  pimpinan Jendral De Kock. Menyerahnya Sentot ini menyebabkan Pangeran diponegoro kehilangan  banyak pengikut dan kekuatannya pun semakin berkurang. Kemudian Belanda menjanjikan  hadiah bagi siapa yang  dapat menangkap Pangeran  Diponegoro, namun usaha itu pun mengalami kegagalan. Belanda cukup banyak mengeluarkan biaya dalam Perang Diponegoro dan bermaksud  segera mengakhiri peperangan, dengan cara melaksanakan perundingan.
Kolonel Clereens berhasil mengadakan perundingan pendahuluan sekitar bulan Februari 1830. Perundingan itu berhasil dillaksanakan antara  Pangeran Diponegoro mengajukan  tuntunan sebagai berikut:
            Pangeran Diponegoro menginginkan sebuah Negara Merdeka di bawah seorang  Sultan    dan      juga ingin menjadi Amirulmukmin di seluruh tanah Jawa serta sebagai Kepala Negara            bagi masyarakat islam.
Tuntutan  itu tak di penuhi oleh Belanda sehingga tawar menawar pun terjadi, hasil perundingan itu sudah tidak ada harapan lagi. Melihat keteguhaan hati Pangeran Diponegoro akhirnya kekebalan diplomatik yang dimiliki Pangeran Diponegoro di singkirkan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan  di Batavia  kemudian di Manado daan selanjutnya  di Makassar (Benteng Rotterdam), hingga akhir hayatnya di sana tanggal 8 Februari 1855.
Dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro, maka berakhirlah Perang Diponegoro  dengan Belanda. Belanda mengakui bahwa Perang Diponegoro merupakan perang yang paling hebat karena pihak Belanda banyak mengeluarkan biaya perang.



Referensi:
-          H. C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modren. Yogyakarta. Gadjah Mada University    press.
-          Sartono Kartodirdjo. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari     Emporium sampai Imperium Jilid I. Jakarta: Gramedia.
-          Zul Asri. 2005. Hand Out Sejarah Indonesia Zaman Pengaruh Barat. Padang: Jurusan      Sejarah FIS UNP.

1 komentar:

  1. background ama tulisannya ngejreng banget bikin pusing pembaca

    BalasHapus