Selasa, 28 Februari 2012

teori ilmu sosial postmodren

 

TEORI  POSTMODERNISME

Postmodernisme adalah sebuah teori yang lahir akibat dari tidak terpenuhinya janji Teori Modrenisasi akan terciptanya kehidupan yang lebih baik bagi para penganut Teori Modernisasi. (Abdul Kadir). Postmodernisme adalah sebuah reaksi melawan modernisasi yang muncul sejak akhir abad ke 19.
Dalam Postmodernisme, pikiran digantikan oleh keinginan, penalaran digantikan oleh emosi, dan moralitas digantikan relativisme. Kenyataan tidak lebih dari sebuah kontruk sosial; kebenaran sama dengan kekuatan atau kekuasaan.
Postmodernisme mempunyai karakteristik fragmentasi (terpecah-pecah menjadi lebih kecil), tidak menentukan, dan sebuah ketidakpercayaan terhadap semua hal universal (pandangan dunia) dan struktur kekuatan.

Penganut Postmodernisme:

§  Arnold Toynbee, sejarawan Inggris. Orang pertama yang melontarkan istilah Postmodernist pada tahun 1939, tetapi istilah Postmodernisme dibuat pada akhir tahun 1940 dan istilah tersebut baru digunakan pada pertengahan 1970 oleh kritikus seni dan teori asal Amerika, Charles Jencks, untuk menjelaskan gerakan anti Modernisme seperti Pop Art, Concept Art, dan Postminimalisme.
§  J. Francois Lyotard, pemikir pertama yang menulis secara lengkap mengenai Postmodernisme sebagai fenomena budaya yang lebih luas. karyanya yang berjudul “ The Postmodern Condition: A Report on Knowledge ( 1979 ),“ sebagai kritikan atas karya “The Grand Narrative” yang dianggap sebagai dongeng khayalan hasil karya masa modernitas. Ia memandang postmodernisme muncul sebelum dan sesudah modernisme, dan merupakan sisi yang berlawanan dari modernisme.
§  Zygmunt Bauman
§  John Milbank
§  Flaskas, di tahun 2002 ia pernah berpendapat bahwa Postmodernisme adalah oposisi dari premis modernisme.

Latar belakang lahirnya Teori Postmodernisme:
§  Sebagai bentuk protes akan anggapan kurangnya ekspresi dalam aliran modernisme.
§  Karena terjadinya krisis kemanusiaan modern dalam aliran modernisme.

Asas-asas pemikiran Postmodernisme:
1.      Penafiaan atas ke-universal-an suatu pemikiran (totalism).
2.      Penekanan akan terjadinya pergolakan pada identitas personal maupun sosial secara terus-menerus, sebagai ganti dari permanen yang amat mereka tentang.
3.      Pengingkaran atas semua ideologi.
4.      Pengingkaran atas setiap eksistensi obyektif dan permanen.
5.      Kritik tajam atas semua jenis epistemologi.
6.      Pengingkaran akan penggunaan metode permanen dan paten dalam menilai maupun berargumen.

Peluang dan Tantangan Teori Postmodernisme
*      Peluang:
§  Menawarkan pikiran baru yang toleran terhadap pluralitas, pembongkaran dan lokalitas.
§  Menerima bentuk tradisional tetapi dengan cara yang lebih berbeda yaitu dengan cara melebih-lebihkan.
§  Membangkitkan kembali ketertarikan dalam sejarah dan hal-hal yang bersifat tradisional.
*      Tantangan:
§  Di pandang sebagai aliran yang tidak memiliki persinggungan dengan spritualitas dan moralitas.
§  Di pandang sebagai aliran yang mempunyai bentuk tidak beraturan karena menggunakan berbagai macam gaya yang ada pada masa lalu dan menggabungkannya.

Kritik terhadap Teori postmodernisme:
1.      Gagal memenuhi harapan standar ilmiah modern.
2.      Pengetahuan yang dihasilkan di pandang tidak terdiri dari gagasan-gagasan ilmiah, mungkin lebih baik melihat teori post modern sebagai ideologi.
3.      Tidak dibatasi oleh norma ilmu pengetahuan, postmodernis bebas melakukan apapun yang disukai “bermain-main” dengan gagasan.
4.      Gagasan postmodernisme sering kabur dan abstrak sehingga sulit.
5.      Di tengah-tengah para teoritisi postmodernisme mengkritik narasi besar teoritisi modern dan menawarkan jenis narasi mereka sendiri.
6.      Dalam analisis mereka, para teoritisi postmodernisme sering kali menawarkan kritik terhadap masyarakat modern, namun kritik-kritik tersebut kesahihanya layak dipertanyakan karena pada umunya tidak memiliki basis normatif yang digunakan untuk mengemukakan penilaian.
7.      Para postmodernis sering kali tidak memiliki teori agensi.
8.      Para teoritisi posmodernisme adalah yang terbaik dalam mengkritik, tetapi mereka tidak memiliki gambaran tentang masyarakat ideal.
9.      Teori ini mengiring ke arah pesimisme yang begitu akut.
10.  Para teoritisi berpegang teguh pada apa yang mereka pandang sebagai isu-isu sosial utama, sering kali mereka berakhir dengan pengabaian atas hal-hal yang di pandang banyak orang sebagai masalah utama zaman kita.


Literatur:
-          George Ritzer dan Douglas J. Goodman (penerjemah: nurhadi). 2008. Teori Sosiologi “Dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Teori Sosial Post Modern”. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
-          www.scribd.com/doc/27492923/5-TEORI-POSTMODERNISM karya: Dr. Abdul Kadir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar