TEORI POSTMODERNISME
Postmodernisme adalah sebuah teori yang
lahir akibat dari tidak terpenuhinya janji Teori Modrenisasi akan terciptanya
kehidupan yang lebih baik bagi para penganut Teori Modernisasi. (Abdul Kadir). Postmodernisme
adalah sebuah reaksi melawan modernisasi yang muncul sejak akhir abad ke 19.
Dalam Postmodernisme,
pikiran digantikan oleh keinginan, penalaran digantikan oleh emosi, dan
moralitas digantikan relativisme. Kenyataan tidak lebih dari sebuah kontruk
sosial; kebenaran sama dengan kekuatan atau kekuasaan.
Postmodernisme
mempunyai karakteristik fragmentasi (terpecah-pecah menjadi lebih kecil), tidak
menentukan, dan sebuah ketidakpercayaan terhadap semua hal universal (pandangan
dunia) dan struktur kekuatan.
Penganut Postmodernisme:
§ Arnold Toynbee,
sejarawan Inggris. Orang pertama yang
melontarkan istilah Postmodernist pada tahun 1939, tetapi istilah
Postmodernisme dibuat pada akhir tahun 1940 dan istilah tersebut baru digunakan
pada pertengahan 1970 oleh kritikus seni dan teori asal Amerika, Charles Jencks, untuk menjelaskan
gerakan anti Modernisme seperti Pop Art, Concept Art, dan Postminimalisme.
§ J. Francois Lyotard,
pemikir pertama yang menulis secara lengkap mengenai Postmodernisme sebagai
fenomena budaya yang lebih luas. karyanya yang berjudul “ The Postmodern Condition: A Report on Knowledge ( 1979 ),“
sebagai kritikan atas karya “The Grand
Narrative” yang dianggap sebagai dongeng khayalan hasil karya masa
modernitas. Ia memandang postmodernisme muncul sebelum dan sesudah modernisme,
dan merupakan sisi yang berlawanan dari modernisme.
§ Zygmunt Bauman
§ John Milbank
§ Flaskas,
di tahun 2002 ia pernah berpendapat bahwa Postmodernisme adalah oposisi dari
premis modernisme.
Latar belakang lahirnya Teori Postmodernisme:
§ Sebagai
bentuk protes akan anggapan kurangnya ekspresi dalam aliran modernisme.
§ Karena
terjadinya krisis kemanusiaan modern dalam aliran modernisme.
Asas-asas pemikiran Postmodernisme:
1.
Penafiaan atas
ke-universal-an suatu pemikiran (totalism).
2.
Penekanan akan
terjadinya pergolakan pada identitas personal maupun sosial secara
terus-menerus, sebagai ganti dari permanen yang amat mereka tentang.
3.
Pengingkaran atas semua
ideologi.
4.
Pengingkaran atas
setiap eksistensi obyektif dan permanen.
5.
Kritik tajam atas semua
jenis epistemologi.
6.
Pengingkaran akan
penggunaan metode permanen dan paten dalam menilai maupun berargumen.
Peluang dan Tantangan Teori Postmodernisme
§ Menawarkan
pikiran baru yang toleran terhadap pluralitas, pembongkaran dan lokalitas.
§ Menerima
bentuk tradisional tetapi dengan cara yang lebih berbeda yaitu dengan cara melebih-lebihkan.
§ Membangkitkan
kembali ketertarikan dalam sejarah dan hal-hal yang bersifat tradisional.
§ Di
pandang sebagai aliran yang tidak memiliki persinggungan dengan spritualitas
dan moralitas.
§ Di
pandang sebagai aliran yang mempunyai bentuk tidak beraturan karena menggunakan
berbagai macam gaya yang ada pada masa lalu dan menggabungkannya.
Kritik terhadap Teori postmodernisme:
1.
Gagal memenuhi harapan standar
ilmiah modern.
2.
Pengetahuan yang
dihasilkan di pandang tidak terdiri dari gagasan-gagasan ilmiah, mungkin lebih
baik melihat teori post modern sebagai ideologi.
3.
Tidak dibatasi oleh
norma ilmu pengetahuan, postmodernis bebas melakukan apapun yang disukai
“bermain-main” dengan gagasan.
4.
Gagasan postmodernisme
sering kabur dan abstrak sehingga sulit.
5.
Di tengah-tengah para
teoritisi postmodernisme mengkritik narasi besar teoritisi modern dan
menawarkan jenis narasi mereka sendiri.
6.
Dalam analisis mereka,
para teoritisi postmodernisme sering kali menawarkan kritik terhadap masyarakat
modern, namun kritik-kritik tersebut kesahihanya layak dipertanyakan karena
pada umunya tidak memiliki basis normatif yang digunakan untuk mengemukakan
penilaian.
7.
Para postmodernis
sering kali tidak memiliki teori agensi.
8.
Para teoritisi
posmodernisme adalah yang terbaik dalam mengkritik, tetapi mereka tidak
memiliki gambaran tentang masyarakat ideal.
9.
Teori ini mengiring ke
arah pesimisme yang begitu akut.
10.
Para teoritisi
berpegang teguh pada apa yang mereka pandang sebagai isu-isu sosial utama,
sering kali mereka berakhir dengan pengabaian atas hal-hal yang di pandang
banyak orang sebagai masalah utama zaman kita.
Literatur:
-
George Ritzer dan
Douglas J. Goodman (penerjemah: nurhadi). 2008. Teori Sosiologi “Dari Teori Sosiologi Klasik sampai
Perkembangan Teori Sosial Post Modern”. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
-
www.scribd.com/doc/27492923/5-TEORI-POSTMODERNISM
karya: Dr. Abdul Kadir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar