BUDAYA BACA ORANG MUDA MINANG DI ERA REFORMASI
Proposal Penelitian
OLEH :
PIKI SETRI PERNANTAH
2010 / 17582
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Budaya baca
merupakan kebiasaan seseorang dalam membaca. Budaya baca berawal
dari minat baca, tetapi seseorang yang mempunyai budaya baca belum tentu
mempunyai minat baca. Sedangkan seseorang yang berbudaya baca pasti mempunyai
minat baca. Sejak beberapa waktu akhir ini, masalah budaya baca kembali hangat
di bicarakan dan mendapat perhatian dari berbagai kalangan pendidikan maupun
luarnya. Perhatian yang hangat untuk masalah yang satu ini bukanlah untuk
pertama kalinya. Beberapa tahun lalu (sekitar
1969) sehubungan dengan masalah ini DPR-GR pernah membuat berbagai
aktivitas, baik di dalam sidang-sidang DPR sendiri maupun luarnya—beberapa orang
anggota DPR-GR bahkan sampai mendirikan yayasan dan melakukan kegiatan lain
yang berhubungan dengan pembinaan minat baca dan perpustakaan[1].
Begitu pun di ranah Minang sendiri budaya baca juga menjadi pusat perhatian
akhir waktu ini. Betapa orang minang ( generasi muda) di era reformasi ini semakin
jauh dengan buku. Lain halnya dengan orang muda Minang yang terdahulu di masa
pergerakan nasional yang bisa dikatakan
orang muda berbudaya baca, karena dulunya cakrawala berfikir orang muda Minang
yang terbuka, membaca perubahan dan perkembangan zaman yang mana tidak lepas
melalui pendidikan dengan budaya baca.
Dari fragmen
sejarah diatas, kita menyadari betapa pendidikan dan budaya baca ternyata
sangat penting dan mampu mengubah paradigma berfikir orang muda Minang waktu
itu. Paradigma yang mulanya terbelakang,
stagnan berubah progresif dengan melahirkan
ide merubah nasib sendiri agar sejajar dengan bangsa lain, yaitu hidup
merdeka sebagai salah satu Hak Azazi Manusia (HAM). Selain itu, budaya baca
juga banyak melahirkan banyak tokoh-tokoh yang tidak hanya diakui di Sumatera
Barat, Indonesia tetapi di akui Dunia, seperti Hamka, Moh. Hatta, H. Agus
Salim, M. Yamin, Tan Malaka, M. Natsir, St. Syahril dan sederet nama lainnya[2]. Berdasarkan
data tersebut terdapat hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Bagaimana perubahan
budaya baca orang muda Minang yang dulunya sangat membudaya beralih ke keadaan
yang sungguh memperihatinkan, yaitu mulai hilangnya budaya baca tersebut di era
Reformasi ini. Hal tersebut disebabkan
oleh pengaruh buruk televisi dan kurang tersedianya layanan bacaan yang memadai.
Selain itu, topik ini juga layak untuk diteliti karena belum adanya orang yang
melakukan penelitian mengenai budaya baca orang muda Minang di era Reformasi ini. Di dalam kajian sejarah juga
sangat layak karena topik ini membahas perubahan budaya baca orang muda Minang
dari masa pergerakan nasional ke era Reformasi sekarang ini.
Mengenai topik
yang dibahas peneliti berangkat dari salah satu artikel ( Membaca Krisis
Budaya Baca Orang Muda Minang oleh Kurnia Hardinata di Singgalang Minggu 30
Oktober 2011), di sana di jelaskan mengenai krisis budaya baca orang muda
Minang yang semakin memperihatinkan dan di butuhkan perhatian dari segala
kalangan, baik dari kalangan pendidikan maupun di luar pendidikan. Peneliti
melihat itu sesuatu hal yang sepatutnya di kaji agar dapat mengetahui bagaimana
budaya baca orang muda Minang di era reformasi ini.
B.
Batasan
dan Rumusan Masalah
Keadaan budaya
baca orang muda minang di era Reformasi ini sepatutnya menjadi perhatian
bersama. Mencoba menyelamatkan para orang muda Minang dari pengaruh buruk
televisi sebagai musuh utama dari budaya baca dan menyediakan layanan bacaan
yang memadai, perpustakaan daerah yang aplikatif, serta layanan perpustakaan
mobile yang menjangkau daerah-daerah terjauh sekalipun. Untuk itu, peneliti mencoba
melakukan penelitian terhadap budaya baca orang muda Minang dalam menentukan mutu
pendidikan di Minang atau Sumatera Barat di era Reformasi ini. Yang mana
dulunya mutu pendidikan di Sumbar berada di tangga atas, yang merupakan sebuah
negeri dengan sekolah-sekolah tertua dan tersohor ke berbagai pelosok negeri
hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Dalam hal ini
peneliti mencoba melakukan penelitian tentang budaya baca orang muda Minang di
era Reformasi yaitu dari tahun 1998 sampai sekarang. Tempat dilakukan
penelitian di ranah Minang atau Sumatera Barat, karena berdasarkan topik
penelitian yaitu budaya baca orang muda Minang. Berdasarkan latar belakang di
atas rumusan masalah dalam penelitian ini bahwa orang muda Minang sekarang ini
seakan-akan tidak memiliki minat baca yang nantinya akan melahirkan budaya baca
serta seakan-akan menjauh dari sumber ilmu pengetahuan yaitu buku yang mana
memiliki perang yang sangat besar dalam menentukan mutu pendidikan di ranah
Minang ini.
Berdasarkan
batasan masalah di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah :
1.
Bagaimana
kondisi budaya baca orang muda Minang di era reformasi ini terkait dengan
pengaruh televisi dan kurangnya layanan bacaan yang memadai ?
2.
Bagaimana
kontribusi budaya baca terhadap mutu pendidikan di kalangan orang muda Minang dalam
era Reformasi sekarang ?
C.
Tujuan
penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk :
1.
Mengetahui
dan mendeskripsikan krisis atau tidaknya kondisi budaya baca orang muda Minang
di era Reformasi sekarang.
2.
Memaparkan
perkembangan mutu pendidikan di ranah Minang terkait dengan budaya baca orang
muda Minang di era Reformasi sekarang.
3.
Mengetahui
seberapa membudayanya budaya baca di kalangan orang muda Minang saat ini.
D.
Manfaat
penelitian
Adapun manfaat
penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini secara akademis dan praktis
adalah :
1.
Secara
akademis, penelitian ini menjadi salah satu kajian dan perbendaharaan ilmiah
dalam bidang sejarah pendidikan mengenai budaya baca orang muda Minang di era
Reformasi.
2.
Secara
praktis, penelitian ini dapat menjadi bahan / studi relevan bagi penelitian
lanjutan yang terkait dengan konteks masalah penelitian yang sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar