Sabtu, 24 Maret 2012

Proposal Penelitian BUDAYA BACA ORANG MUDA MINANG DI ERA REFORMASI


BUDAYA BACA ORANG MUDA MINANG DI ERA REFORMASI


Proposal Penelitian






OLEH :
PIKI SETRI PERNANTAH
2010 / 17582





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Budaya baca merupakan kebiasaan seseorang dalam membaca. Budaya baca berawal dari minat baca, tetapi seseorang yang mempunyai budaya baca belum tentu mempunyai minat baca. Sedangkan seseorang yang berbudaya baca pasti mempunyai minat baca. Sejak beberapa waktu akhir ini, masalah budaya baca kembali hangat di bicarakan dan mendapat perhatian dari berbagai kalangan pendidikan maupun luarnya. Perhatian yang hangat untuk masalah yang satu ini bukanlah untuk pertama kalinya. Beberapa tahun lalu (sekitar  1969) sehubungan dengan masalah ini DPR-GR pernah membuat berbagai aktivitas, baik di dalam sidang-sidang DPR sendiri maupun luarnya—beberapa orang anggota DPR-GR bahkan sampai mendirikan yayasan dan melakukan kegiatan lain yang berhubungan dengan pembinaan minat baca dan perpustakaan[1]. Begitu pun di ranah Minang sendiri budaya baca juga menjadi pusat perhatian akhir waktu ini. Betapa orang minang ( generasi muda) di era reformasi ini semakin jauh dengan buku. Lain halnya dengan orang muda Minang yang terdahulu di masa pergerakan nasional  yang bisa dikatakan orang muda berbudaya baca, karena dulunya cakrawala berfikir orang muda Minang yang terbuka, membaca perubahan dan perkembangan zaman yang mana tidak lepas melalui pendidikan dengan budaya baca.
Dari fragmen sejarah diatas, kita menyadari betapa pendidikan dan budaya baca ternyata sangat penting dan mampu mengubah paradigma berfikir orang muda Minang waktu itu. Paradigma  yang mulanya terbelakang, stagnan berubah progresif dengan melahirkan  ide merubah nasib sendiri agar sejajar dengan bangsa lain, yaitu hidup merdeka sebagai salah satu Hak Azazi Manusia (HAM). Selain itu, budaya baca juga banyak melahirkan banyak tokoh-tokoh yang tidak hanya diakui di Sumatera Barat, Indonesia tetapi di akui Dunia, seperti Hamka, Moh. Hatta, H. Agus Salim, M. Yamin, Tan Malaka, M. Natsir, St. Syahril dan sederet nama lainnya[2]. Berdasarkan data tersebut terdapat hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Bagaimana perubahan budaya baca orang muda Minang yang dulunya sangat membudaya beralih ke keadaan yang sungguh memperihatinkan, yaitu mulai hilangnya budaya baca tersebut di era Reformasi ini. Hal tersebut disebabkan  oleh pengaruh buruk televisi dan kurang tersedianya layanan bacaan yang memadai. Selain itu, topik ini juga layak untuk diteliti karena belum adanya orang yang melakukan penelitian mengenai budaya baca orang muda Minang di era  Reformasi ini. Di dalam kajian sejarah juga sangat layak karena topik ini membahas perubahan budaya baca orang muda Minang dari masa pergerakan nasional ke era Reformasi sekarang ini.
Mengenai topik yang dibahas peneliti berangkat dari salah satu artikel ( Membaca Krisis Budaya Baca Orang Muda Minang oleh Kurnia Hardinata di Singgalang Minggu 30 Oktober 2011), di sana di jelaskan mengenai krisis budaya baca orang muda Minang yang semakin memperihatinkan dan di butuhkan perhatian dari segala kalangan, baik dari kalangan pendidikan maupun di luar pendidikan. Peneliti melihat itu sesuatu hal yang sepatutnya di kaji agar dapat mengetahui bagaimana budaya baca orang muda Minang di era reformasi ini.


B.     Batasan dan Rumusan Masalah
Keadaan budaya baca orang muda minang di era Reformasi ini sepatutnya menjadi perhatian bersama. Mencoba menyelamatkan para orang muda Minang dari pengaruh buruk televisi sebagai musuh utama dari budaya baca dan menyediakan layanan bacaan yang memadai, perpustakaan daerah yang aplikatif, serta layanan perpustakaan mobile yang menjangkau daerah-daerah terjauh sekalipun. Untuk itu, peneliti mencoba melakukan penelitian terhadap budaya baca orang muda Minang dalam menentukan mutu pendidikan di Minang atau Sumatera Barat di era Reformasi ini. Yang mana dulunya mutu pendidikan di Sumbar berada di tangga atas, yang merupakan sebuah negeri dengan sekolah-sekolah tertua dan tersohor ke berbagai pelosok negeri hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Dalam hal ini peneliti mencoba melakukan penelitian tentang budaya baca orang muda Minang di era Reformasi yaitu dari tahun 1998 sampai sekarang. Tempat dilakukan penelitian di ranah Minang atau Sumatera Barat, karena berdasarkan topik penelitian yaitu budaya baca orang muda Minang. Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah dalam penelitian ini bahwa orang muda Minang sekarang ini seakan-akan tidak memiliki minat baca yang nantinya akan melahirkan budaya baca serta seakan-akan menjauh dari sumber ilmu pengetahuan yaitu buku yang mana memiliki perang yang sangat besar dalam menentukan mutu pendidikan di ranah Minang ini.
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka pertanyaan penelitiannya adalah :
1.      Bagaimana kondisi budaya baca orang muda Minang di era reformasi ini terkait dengan pengaruh televisi dan kurangnya layanan bacaan yang memadai ?
2.      Bagaimana kontribusi budaya baca terhadap mutu pendidikan di kalangan orang muda Minang dalam era Reformasi sekarang ?
C.    Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui dan mendeskripsikan krisis atau tidaknya kondisi budaya baca orang muda Minang di era Reformasi sekarang.
2.      Memaparkan perkembangan mutu pendidikan di ranah Minang terkait dengan budaya baca orang muda Minang di era Reformasi sekarang.
3.      Mengetahui seberapa membudayanya budaya baca di kalangan orang muda Minang saat ini.

D.    Manfaat penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini secara akademis dan praktis adalah :
1.      Secara akademis, penelitian ini menjadi salah satu kajian dan perbendaharaan ilmiah dalam bidang sejarah pendidikan mengenai budaya baca orang muda Minang di era Reformasi.
2.      Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi bahan / studi relevan bagi penelitian lanjutan yang terkait dengan konteks masalah penelitian yang sama.







[1]  Rosidi, Dadang. 1973. Pembinaan Minat Baca, Apresiasi dan Penelitian Sastra. Jakarta. Panitia Tahun Buku
Internasional DKI Jakarta hal. 20
[2]  Hadinata, Kurnia. 2011. Membaca Krisis Budaya Baca Orang Muda Minang. Singgalang Minggu, 30 Oktober 2011 ( 3 Zulhijah 1432 H) hal B-14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar