20 tahun berlalu
Kau pergi bagai angin yang ranum
Menggoreskan secarik luka di hati
Menancapkan duri kayu
Pergi tanpa peduli aku
Menyasak iba denyut nadi
Sampai kini tak kunjung berhenti
Semilir isak tak kunjung menjadi
tawa
Akau tak tau harus berbuat apa
Aku semakin iba
Tak kuat hatiku menahan rasa
Rasa iba yang kian membara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar