Senin, 14 Mei 2012

Sabtu, 11 Juni 2011

Komitmen Muslim Sejati (Resensi Buku

oleh: Shifa Dilia Nindiawati

Assalamu’alaykum temen-temen,

 
Disini saya akan berbagi sedikit resensi sebuah buku. Buku ini udah lumayan lama beredar, yaa mungkin bagi temen-temen yang udah baca buku ini, tulisan ini bisa sedikit merefresh ingatan kita, nah bagi yang belum baca semoga bisa menjadi gerbang awal temen-temen untuk membacanya. Langsung saja, buku ini berjudul “Komitmen Muslim Sejati” karya Fathi Yakan. 

Buku ini hanya terdiri dari 2 bab, Bab pertama berisi tentang karakteristik terpenting yang harus ada pada diri seorang muslim sejati. Bab kedua menjelaskan tentang bagaimanan kita berafiliasi pada pergerakan islam. 

Pada Bab pertama menyinggung kita bahwa “Pengakuan sebagai muslim bukanlah klaim terhadap pewarisan, bukan klaim terhadap suatu identitas, juga bukan klaim terhadap suatu penampilan lahir, melainkan pengakuan untuk menjadi penganut Islam, berkomitmen kepada Islam, dan beradaptasi dengan Islam dalam setiap aspek kehidupan”. Dalam hal ini islam harus mencakup pada aspek akidah, ibadah, akhlak, serta keluarga dan rumah tangga. Selain itu dalam buku ini juga dipaparkan bagaimana keharusan kita dalam mengalahkan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Seorang muslim sejati juga harus yakin masa depan adalah milik islam. Keyakinan ini didorong oleh beberapa faktor antara lain Rabbaniyyah Manhaj Islam, Universalitas Manhaj Islam, Elastisitas Manhaj Islam, Kelengkapan Manhaj Islam, Keterbatasan sistem-sistem “wadh’iyyah”.

Pada Bab kedua, menjelaskan tentang afiliasi terhadap gerakan Islam. ”Dasar untuk mengaku sebagai aktivis pergerakan Islam adalah hendaknya pada diri seseorang telah terwujud sifat dan karakteristik pengakuannya sebagai Muslim. Inilah yang menjadikan pergerakan Islam memberikan perhatian terhadap kaderisasi, agar muncul individu Muslim yang benar keislamannya, sebelum menyiapkannya sebagai aktivis pergerakan.”. Karakteristik yang harus dimiliki oleh setiap Muslim agar pengakuan keislamannya benar antara lain: SAYA HARUS HIDUP UNTUK ISLAM,Bagaimana saya hidup untuk Islam? yaitu dengan Mengetahui tujuan hidup, Mengetahui nilai-nilai dunia dibandingkan dengan akhirat , “Dunia adalah penjara orang mukmin dan surga orang kafir” (HR.Muslim), Menyadari bahwa kematian pasti datang dan mengambil pelajaran darinya, ”Kubur adalah satu taman diantara taman-taman surga atau satu parit di antara parit-parit neraka.” (HR.Thabrani), Mengetahui hakikat Islam, Mengetahui hakikat jahiliyah. 

Rasulullah berkata, ”Barangsiapa mempelajari bahasa suatu kaum, maka ia akan aman dari tipu daya mereka.”.   
SAYA HARUS MEYAKINI KEWAJIBAN MEMPERJUANGKAN ISLAM, Memperjuangkan Islam adalah wajib. Hal ini bisa dilihat dari beberapa sudut pandang: Kewajibannya sebagai prinsip, Kewajibannya sebagai hukum, Kewajiban menegakkan Islam sebagai kebutuhan darurat, Kewajiban secara individu dan kolektif, Barangsiapa berjihad, sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri PERGERAKAN ISLAM; MISI, KARAKTERISTIK, DAN PERLENGKAPANNYA a)    Misi Pergerakan Islam. Tegaknya agama ALLAH di muka bumi. b)    Karakteristik dasar pergerakan Islam: -       Rabbaniyyah (Ketuhanan) -       Pergerakan independen -       Pergerakan progressif -       Pergerakan komprehensif -       Menjauhi Perselisihan fiqih c)    Spesifikasi Gerakan Islam Jauh dari kekuasaan para penguasa dan politikus, walau di antara anggotanya ada yang menjadi penguasa dan politikus. Memiliki tahapan dalam dakwahnya. Imam Hasan Al-Banna, dalam Risalah Ta’alim, menjelaskan bahwa dakwah ini memiliki tiga tahapan: ta’rif (pengenalan), takwin (pembentukan), dan tanfidz (pelaksanaan). 4.  SAYA HARUS MENGETAHUI JALAN PERJUANGAN ISLAM, Hasan Al-Banna, dalam Majmu’atur Rasail , melukiskan potret pejuang Islam sebagai berikut: ”Wahai para ikhwan, kalian bukanlah organisasi sosial, bukan partai politik, bukan pula organisasi domestik yang memiliki keterbatasan tujuan. Tetapi kalian adalah ruh baru yang mengalir di dalam hati sanubari umat ini, kemudian dihidupkan oleh ALLAH dengan cahaya Al-Quran. Kalian adalah cahaya baru yang bersinar terang, yang akan memorak-porandakan kegelapan hidup hedonistis dengan makrifatullah. Ketahuilah, kalian adalah suara yang bergaung keras dengan menggemakan seruan Rasulullah Saw.” 5.  SAYA HARUS MENGETAHUI DIMENSI AFILIASI SAYA KEPADA PERGERAKAN ISLAM 6.  SAYA HARUS MENGETAHUI POROS-POROS PERJUANGAN ISLAM   7.  SAYA HARUS MENGETAHUI PERSYARATAN BAIAT DAN KEANGGOTAAN a)    Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: b)    Kualitas bukan kuantitas c)    Baiat dan hukumnya d)    Ketaatan dan hukumnya e)    Rukun-Rukun baiat f)     Kewajiban-Kewajiban Akhi Muslim Yah... sekian resensi buku dari saya. Bagi temen-temen yang belum baca bukunya monggo dicari di toko buku terdekat atau minjem di temen juga ga pa2. Semoga bermanfaat ^-^
Resensi dari widowening
 
  27 Februari 2009 - 18:19:41

Isi Resensi :
Hafalan Shalat Delisa


Sebuah kisah sederhana namun sarat makna. Pembelajaran shalat pada seorang anak berumur 6 tahun sungguh membuka kesadaran bahwa urusan shalat adalah urusan serius yang harus mulai ditanamkan pada anak-anak sejak kecil jauh sebelum massa baligh datang. Ujian praktek shalat layaknya seperti pesta kecil tahunan, ibu-ibu ramai mengantar, sementara anggota keluarga lain di rumah menanti dengan sambutan yang meriah. Selembar ijazah tanda lulus dan sebuah hadiah manis dari sang ummi sungguh sangat memotivasi anak. Ide yang sangat menarik, urusan shalat menjadi urusan yang serius bagi semua, mulai dari ummi, abi, kakak, bu guru, pak ustadz, koh acan pedagang perhiasan di pasar... dijalin dengan indah, pada jaman dimana orang tua lebih bangga mengantar dan memotivasi anak pada pesta kemeriahan lomba-lomba kecerdasan, lomba busana, lomba menyanyi dan sejenisnya. Tere-Liye sang penulis, mengurai cerita ini begitu runut, sederhana, namun mudah dimaknai. Dimulai dari kesibukan keluarga Delisa yaitu ummi dan tiga kakak perempuannya serta Delisa si bungsu - sementara abi sang ayah bekerja di tanker perusahaan minyak internasional berkeleliling dari satu benua ke benua lainnya dan mengunjungi keluarga setiap tiga bulan sekali -. Ummi, kakak, ustadz, bu guru, semua serius mengajari Delisa hafalan bacaan shalat. Delisapun serius menghafal bacaan shalatnya. Berlatar belakang tragedi tsunami, cerita diurai bagaimana perjuangan Delisa menghafal bacaan shalatnya yang terputus tepat air bah tsunami menghantam Lhok Nga. Kesendirian ... sebuah kata yang menakutkan bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Kakak-kakak Delisa, Ummi Delisa, Ummi Tiur sahabat Delisa, Ibu Guru Nur .... tidak memperkenankan Delisa ikut ke dalam taman indah sejuta warna. ”Delisa harus tinggal, Sayang. Delisa harus menyelesaikan hafalan itu, Sayang...” Delisa sendiri ditinggal orang-orang tercinta, terjerembab di atas semak belukar. Tak ada yang membantu. Namun.. ”Kau memiliki lebih banyak teman dibandingkan seluruh dunia dan seisinya...” Delisa bagai malaikat kecil bagi orang-orang disekelilingnya dan orang-orang yang mengenalnya. Memberi kesadaran. Delisa mengajarkan makna menerima, keikhlasan atas kehilangan. Banyak hal yang dicintai Delisa telah pergi dari kehidupannya kini, ummi, kakak-kakak, rumah, sekolah, meunasah, teman-teman, tempat bermain dan segalanya. Namun Delisa kecil menganggap semua kepergian ini dengan sederhana. Benar-benar sederhana. Tidak ada penolakan. Tidak ada pengingkaran. Bahkan kini Delisa kehilangan hafalan bacaan shalatnya yang nyaris sempurna sesaat sebelum air bah menghantamnya. Delisa terus mencari hafalan shalatnya..... Tere-Liye sang penulis juga mengurai jalinan cerita pasca tsunami dengan sangat indah. Tidak ada kesan menggurui semua mengalir sederhana. Bahwa di balik musibah terkandung banyak hikmah. Silaturrahim terjalin tanpa batas. Hidayah. Keihkhlasan. Meski jalinan kisah sang tokoh terlalu sempurna untuk anak kecil berumur 6 tahun, namun buku ini memberi kesadaran aku benar-benar cemburu... . Hati-hati aku membaca foot note sang penulis – yang memang membuat buku ini terasa istimewa – dan benar-benar membuat cemburu....